Kementerian Perdagangan Resmikan Pasar Tradisional dan Gudang SRG - myzone.okezone.com
Close [x]

Daftar

Kementerian Perdagangan Resmikan Pasar Tradisional dan Gudang SRG

Posted by feri on Feb 03, 2010 | 0 comments

Demak, Jawa Tengah, 3 Februari 2010 – Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar mewakili Menteri Perdagangan hari ini meresmikan pasar tradisional dan gudang Sistem Resi Gudang (SRG) di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang merupakan realisasi dari program stimulus fiskal Kementerian Perdagangan tahun 2009.

Sebelum acara peresmian, Wamendag beserta jajaran Kementerian Perdagangan berkunjung ke Pasar Karanganyar, Demak. Pasar dengan bangunan seluas lebih dari 3.000 m2 di atas lahan kurang lebih 6.000 m2, dibangun dengan anggaran sebesar Rp 8,1 miliar dan terdiri dari 50 unit kios dan 27 unit los yang dapat menampung 284 pedagang. Pada pasar yang merupakan salah satu sentra perdagangan di Kabupaten Demak ini terdapat sarana berupa kantor pengelola serta sarana ibadah dan fasilitas perparkiran yang telah menyerap sebanyak 90 orang tenaga kerja baru.

Wamendag berharap dengan upaya manajemen pengelolaan pasar yang profesional dan modern, pasar Karanganyar dapat memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kepada Kabupaten Demak sebesar Rp100 juta per tahunnya. Hal ini sejalan dengan konsep pelaksanaan revitalisasi pasar tradisional Kementerian Perdagangan yang tidak sekedar pembangunan fisik pasar, namun juga berfokus lebih jauh lagi pada peningkatan pengelolaan manajemen pasar sehingga dapat meningkatkan kemampuan fiskal daerah.

"Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Pemerintah Daerah secara keseluruhan telah melakukan pembangunan melalui Dana Stimulus Fiskal Tahun Anggaran 2009 terhadap 41 gudang komoditi primer, yang terdiri dari 35 gudang flat dan 6 gudang silo di daerah-daerah sentra produksi yang tersebar di 34 kabupaten pada 10 provinsi di Indonesia, sesuai dengan Standar Nasional Indonesia untuk gudang komoditi pertanian, dengan total nilai sekitar Rp 120 miliar," kata Mahendra.

Di samping itu, menurut Wamendag, sampai saat ini telah dibangun 37 pasar yang tersebar di 23 kabupaten/kota di 11 provinsi di Indonesia dengan anggaran sebesar Rp 215 miliar. Keberadaan pasar stimulus fiskal ini melengkapi jumlah pasar yang telah dibangun oleh Kementerian Perdagangan melalui tugas perbantuan sebanyak 57 pasar, dana alokasi khusus sebanyak 379 pasar sehingga menjadi total 473 unit pasar di 306 kabupaten/kota dengan total nilai sekitar Rp453 miliar.

Program Stimulus Fiskal 2009 dilaksanakan sebagai upaya pemerintah dalam merespon krisis global, berupa perlambatan laju pertumbuhan ekonomi, peningkatan inflasi, penurunan daya beli masyarakat, penurunan ekspor, penurunan produksi dan rasionalisasi tenaga kerja. Program stimulus ini bertujuan untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja, meningkatkan daya beli masyarakat dan mempertahankan daya saing serta daya tahan usaha.

Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah di sektor perdagangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah melalui penguatan subsektor perdagangan dalam negeri yang efisien guna menunjang daya saing di pasar dalam dan luar negeri, di mana  hal ini menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan dan kompetisi global yang semakin ketat.

Dalam program 100 hari Kabinet Indonsia Bersatu II, Kementerian Perdagangan secara konsisten melaksanakan upaya revitalisasi pasar tradisional yang dapat berdampak bagi daerah dengan terciptanya ketersediaan pasokan komoditi pertanian, peningkatan kualitas produk dan daya saing produk, meningkatkan kelancaran distribusi dan pemasaran barang terutama bahan kebutuhan pokok masyarakat, serta mendorong pemberdayaan petani/kelompok tani dan UMKM, yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di daerah setempat.

Setelah melakukan peninjauan ke Pasar Karanganyar, Wamendag juga berkesempatan meninjau pasar murah gula dan minyak goreng di Pasar Sedu. Sebagaimana pelaksanaan sebelumnya di kabupaten/kota lain, penyelenggaraan pasar murah kali ini dilakukan dalam rangka stabilisasi atas gejolak harga yang terjadi di beberapa daerah dan untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya termasuk bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau Rumah Tangga Sederhana (RTS).

Pada pasar murah ini dijual minyak goreng sebanyak 5.000 liter dengan harga Rp7.500 per liter dan gula pasir sebanyak 5.000 kg dengan harga Rp9.000 per kg. Pasar murah ini dilaksanakan oleh pemerintah bekerjasama dengan pihak swasta yaitu PT. Wilmar International yang menyediakan minyak goreng dan PT. Citra Gemini Mulya yang mensuplai komoditas gula.

"Tugas penting dari Kementerian Perdagangan adalah mewujudkan penguatan pasar dalam negeri dengan terus membenahi sistem distribusi yang menunjang daya saing Indonesia di pasar dalam dan luar negeri, menyediakan kebutuhan pokok dan menjaga stabilitas harga, memberdayakan pasar tradisonal dan UKM, pengembangan implementasi Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang, pengamanan pasar dan perlindungan konsumen serta mengembangkan citra Indonesia melalui program ekonomi kreatif dan program Gerakan Cinta Indonesia untuk menstimulasi dan promosi peningkatan penggunaan produksi dalam negeri," kata Wamendag.

Wamendag kemudian melakukan panen padi di Desa Geneng bersama Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurti, Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Propinsi Jawa Tengah Hadi Prabowo dan Bupati Demak Tafta Zani. Acara dilanjutkan dengan peresmian gudang SRG dan pasar tradisional di Desa Mulyorejo yang ditandai dengan penandatangan prasasti dan nota kesepahaman percepatan implementasi kerjasama SRG oleh Wamendag dan Wamentan.

Pada acara peresmian ini juga dilakukan penyerahan bantuan alat pengolahan kayu (desain produk) senilai Rp 285 juta secara simbolis oleh secara simbolis Wamendag kepada Bupati Jepara Hendro Martojo.

Sistem Resi Gudang berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 merupakan salah satu instrumen yang efektif untuk mengatasi kesulitan para pelaku usaha terutama kelompok tani dan UKM yang selama ini menghadapi masalah dalam memperoleh akses pembiayaan untuk modal kerja dari Bank, karena tidak memiliki aset tetap (fixed assets) untuk digunakan sebagai agunan.

Untuk itu, melalui SRG, komoditi yang dimiliki pelaku usaha terutama kolompok tani dan UKM yang disimpan di gudang untuk diterbitkan resi gudang dapat dijadikan agunan sepenuhnya tanpa dipersyaratkan adanya agunan lainnya, sehingga pelaku usaha dapat menjaminkan Resi Gudang untuk memperoleh modal kerja dan kebutuhan pembiayaan.

Disamping hal tersebut, melalui SRG petani dapat menentukan harga terbaik dengan menunda penjualan pada saat musim panen raya dimana harga komoditas cenderung rendah. Dengan demikian, lambat laun petani UKM tidak hanya sebagai petani produsen tetapi petani pebisnis yang dapat memprediksi kapan harus menahan atau menjual hasil produksinya dengan harga terbaik dan keuntungan yang optimal.

"Dengan telah dibangunnya gudang-gudang untuk SRG tersebut dan telah terbentuknya kelembagaan SRG yang meliputi Pusat Registrasi, Pengelola Gudang dan Lembaga Penilaian Kesesuaian serta adanya kesiapan lembaga pembiayaan (perbankan) untuk mendanai pelaku usaha dengan skema SRG, maka dalam kesempatan ini akan dilakukan pula peluncuran Sistem Resi Gudang sebagai tanda mulai berjalannya pemanfaatan implementasi SRG di Indonesia,” ujar Wamendag.

Tim Humas Kemendag
pressroom_depdag@yahoo.co.id

Your Response