'Soko Guru' Masjid Agung Demak Dikerangkeng - myzone.okezone.com
Close [x]

Daftar

'Soko Guru' Masjid Agung Demak Dikerangkeng

Posted by heruchris on Mar 15, 2011 | 0 comments

DEMAK - Khawatir diusili oknum peziarah, bekas 'soko guru' Masjid Agung Demak (MAD) karya Sunan Kalijaga enam abad silam, terpaksa di kerangkeng dalam sel di museum terletak disisi Timur masjid. Orang menganggap, serpihan kayu soko tatal/soko guru sangat bertuah. Bisa untuk jimat guna menepis berbagai masalah.

Alm Moch Salim pengurus masjid ini pernah berkata, selain soko tatal, tiga pilar soko guru lain buatan Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Gunungjati, juga disimpan di museum. Benda lebih tua lagi yaitu dua daun pintu berukir Naga Merah karya Ki Ageng Selo cikal bakal raja-raja Jawa, disimpan ditempat sama. Pintu ini disebut "Pintu Petir", konon penjelmaan petir yang ditangkap Ki Ageng Selo.

Benda-benda bersejarah itu disimpan di museum, menyusul pemugaran besar-besaran MAD tahun 1983 atas beaya APBN dan Organisdasi Konprensi Islam (OKI) sebesar Rp 700 juta. Alm Presiden Soeharto disaksikan ribuan masyarakat Demak, meresmikan purna pugar, Maret 1987. Saat itu Pak Harto mengatakan, arsitektur MAD terbaik di Asia Tenggara bahkan di dunia.

Soko Guru

MAD pertama dibangun (konon hanya dalam semalam) oleh R.Fattah di bumi Glagahwangi Demak tahun Caka 1388 atau tahun Masehi 1466. Ditandai candrasengkala berbunyi, 'Naga Mulat Sarira Wani' yang terpatri di pintu petir (pintu utama masjid) buatan Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo adalah tokoh pertama yang berperan atas berdirinya MAD.

Setelah Hindu Majapahit runtuh, diganti Kesultanan Islam Demak dipimpin Sultan Fattah, arera MAD diperluas (11.220 m2) tahun Caka 1401/tahun Masehi 1479 ; Ditandai candrasengkala lukisan 'Bulus' di dinding 'mihrob' masjid. Kemudian masjid dipugar besar-besaran tahun 1504-1507, seiring makin berkembangnya Agama Islam di Jawa/Nusantara.

Peran Sunan/Wali Songo (Sembilan Wali) sangat besar dalam pemugaran MAD. Empat wali membuat empat tiang utama (soko guru) penyangga bangunan inti masjid. Masing-masing Sunan Ampel (soko guru sisi Tenggara), Sunan Bonang (soko guru sisi Barat Laut), Sunan Gunungjati (sisi Barat Daya) dan Sunan Kalijaga  (sisi Timur Laut).

Menara Tambahan

Empat soko guru itu tinggi 19,54 M garis tengah 1,45 M. Paling istimewa soko guru buatan Sunan Kalijaga. Bukan dari kayu (jati) utuh, seperti buatan tiga wali lain. Tetapi dari serpihan kayu (tatral), di ikat dan di lerm dengan ramuan Jabung, Damar, Kemenyan serta dikeringkan selama dua tahun sebelum dipasang. Soko guru satu ini populer disebut, 'Saka Tatal'.

Pemerintah Belanda juga melakukan pemugaran tahun 1848. Seluruh tembok masjid diperbaiki; Empat soko guru diberi sabuk/gelang besi agar lebih kokoh. Juga didirikan 'menara' dengan jam besar. Sebelumnya Raja Paku Buwono Ke-I juga memugar MAD tahun 1710 ; Seluruh genting atas masjid (sirap), diganti karena kedapatan keropos.

Pemugaran ke tiga di era Pak Harto (1983-1987) tergolong 'mega-restorasi'. Diantaranya membersihkan/memperbaiki mustaka masjid (perunggu), mengganti genting sirap, merehabilitasi empat soko guru, menata/memindah makam yang tersebar di halaman masjid, menginjeksi zat anti rayap di halaman sekeliling masjid. Namun sejak berdiri masjid ini telah dipugar tak kurang 16 kali.

Kencing Kelelawar 

Tahun 1981 kedapatan salah soko guru masjid ambles30 cm dan bangunan miring tiga derajat arah Utara. Kata IGN.Anom (Dinas Kepurbakalaan Prambanan), soko guru sebagai pilar utama aus hebat bagian atas dan bawahnya. Bagian atas berabad-abad dikencingi ribuan Kelelawar, membuat soko guru busuk/lapuk. Bagian bawah keropos digerogoti Rayap selama beratus-ratus tahun.

Kemudian diputuskan, empat soko guru diganti kayu jati lebih berkualitas/unggulan (sumbangan Perum Perhutani KPH.Cepu-Jateng). Dua daun Pintu Petir berusia lebih tua dari bangunan lain telah geripis ; Diganti dengan 'duplikat' yang kini terpasang di pintu tengah/utama MAD. Sedangkan Pintu Petir asli yang renta, disimpan dalam museum.

Ketika renovasi dilaksanakan, timbul pro-kontra. Misalnya, saat 'alat berat' masuk masjid, untuk mencabut soko-soko guru, diprotes masyarakat. Dianggap tidak menghormati masjid sebagai tempat ibadah. Sesudah diberi penjelasan, masyarakat baru memaklumi. Ulama Moch Salim, sempat menyatakan tak suka MAD dipugar, karena statusnya berubah jadi 'cagar budaya'. Opini ini ternyata tak membawa dampak apapun.

Mengusili Soko Guru 

Musueum MAD semula tanpa pembatas apapun. Bisa didekati sedekatnya oleh pengunjung. Dalam perkembangannya, pengurus masjid melihat gejala negatif atas ulah pengunjung yang mengarah musrik. Diantaranya, mereka berusaha mengerat/mencuil kayu bekas soko guru, pintu petir atau kentongan kuno di museum itu. Konon serpihan kayu itu diyakini memiliki tuah tinggi, ampuh dibuat/dipakai untuk azimat.

Seorang pria asal Bojonegoro mengaku, dapat sekerat kayu soko guru. Lalu ditanam di pematang sawahnya. Mengherankan, sawah itu bebas hama dan hasil panennya sangat bagus. Kisah lain dari wanita asal Pekalongan. Sekeping kayu soko guru yang diperolehnya, dicelup dalam air lalu diminum. Sejak itu sakit rematik yang bertahun-tahun di deritanya sembuh !

Ulah oknum pengunjung itu memicu kemusrikan dan membahayakan benda-benda museum. Sebab masjid dibuka 24 jam non-stop, tiap hari dikunjungi ribuan peziarah dalam/luar negeri. Jika mereka mencuili kayu bekas soko guru, suatu saat balok kayu itu habis dikerati orang. Pengurus masjid lalu 'mengkerangkeng' museum. Dan selamatlah soko-soko guru itu dari aksi jahil orang yang berburu azimat ampuh. (Heru Chris).

Your Response