HUT Klenteng Tertua Indonesia "Welahan" Semarak - myzone.okezone.com
Close [x]

Daftar

HUT Klenteng Tertua Indonesia "Welahan" Semarak

Posted by heruchris on Apr 05, 2011 | 0 comments

JEPARA - Klenteng 'Hian Thian Siang Tee' 9TST0 Welahan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, klenteng tertua di Indonesia. Tahun ini 'Se-jit' (ulang tahun) klenteng semarak, dimeriahkan 32 utusan klenteng dari Padang, Jakarta, Banten, Karawang, Losari, Slawi, Jogjakarta, Muntilan, Klaten, Semarang, Pati, Juana, Blora, Lasem, Lamongan, Bojonegoro dan lain-lain, berlangsung 3 April 2011. 

Para utusan membawa 'Kiem-sien' (arca dewa) dari masing-masing klenteng asal, ditempatkan di 'kio' atau 'joli' (tandu, dipikul orang banyak), mengikuti arak-arakan keliling kota kecil Welahan. Sebelumnya semalaman para 'Kiem-sien' dimuliakan dalam ritual sembahyangan dalam Klenteng HTST bersama 'Khong-co' (Kiem-sien) tuan rumah yaitu, Hian Thian Siang Tee. Demikian jelas Suwoto, Sekretaris Yayasan 'Pusaka' pengelola HTST.

Maharaja Langit

Klenteng HTST Welahan (50 Km Timur Semarang) sesuai namanya memuliakan Khong-co Hian Thian Siang Tee, Dewa Penguasa Langit Utara. Dewa ini salah satu dari empat Maharaja penguasa langit. Juga sering disebut Dewa Pelindung Negara sekaligus merupakan 'Dewa Obat'. Rupang/arcanya digambarkan duduk, salah satu kakinya menginjak Kura-kura yang dililit Ular, dikawal dua jenderal yaitu Zhao dan Khang.

Riwayat Yang Mulia Dewa ini bermula dari seorang 'jagal babi' yang bertaubat, sesudah ribuan babi tewas disembelihnya. Lalu mengucilkan diri, bertapa mendekat kepada-Nya. Pertapaannya terusik manakala usus dan lambungnya 'bertengkar' karena merasa lapar. Saking jengkelnya, si pertapa membedah perutnya, lalu merogoh dan membuang usus dan lambungnya sendiri jauh-jauh.

Karena pengaruh 'parita suci' yang dilantunkan si pertapa, usus yang dibuang berubah jadi Ular dan lambung jadi Kura-kura. Walau sudah jadi mahluk buangan, Kura-kura masih dilekati rasa tamak. Si pertapa marah, diperintahnya Ular membelit Kura-kura. Si pertapa dengan kakinya menginjak Kura-kura agar tak mengumbar nafsu buruknya. Si pertapa akhirnya mencapai kesempurnaan, menjadi Dewa bergelar Hian Thian Siang Tee. 

Kisah RA Kartini

Dalam sejarah Klenteng HTST, terselip kisah hidup RA Kartini, Pahlawan Nasional Pejuang Emansipasi Wanita Indonesia, putri Adipati Jepara era tahun 1800-an silam. Diantara surat-surat tulisan tangannya yang dikirim pada Ny.Abendanon, istri Menteri Pendidikan Kerajaan Belanda saat itu, RA Kartini cerita soal Klenteng HTST Welahan yang disebutnya telah menyelamatkan hidupnya.

Waktu kanak-kanak, tulis RA Kartini dalam suratnya, suatu hari ia sakit parah. Para dokter Belanda semuanya angkat tangan. Datang narapidana Tionghoa temannya, sehari-hari menyapu halaman rumah kadipaten dan memberi saran, agar ayah RA.Kartini minta obat di Klenteng Welahan. Kurir khusus meluncur ke Welahan, pulangnya membawa 'abu' Khong-co HTST dan diminumkan pada RA.Kartini. Aneh, tak lama kemudian RA.Kartini sembuh dari sakitnya.

RA Kartini merasa telah di 'Kwee-phang'  (menjadi anak angkat) Khong-co Klenteng Welahan. Malah sejak itu menyebut dirinya 'vegetarian', tak memakan daging apapun dari mahluk hidup lain, seperti ajaran (Budha) dari kuil Welahan. Surat-surat RA Kartini di kemudian hari diterbitkan pemerintah Kerajaan Belanda berjudul, 'Habis Gelap Terbitlah Terang'.  Buku yang masih cukup poluler sanpai kini. (Heru Chris).

Your Response