RUANG SASTRA
Rumah Dongeng Kita
Anak kecil itu mematung. Raut wajahnya menggambarkan kesedihan. Apa yang lebih menyedihkan manusia kecuali tak dapat menggambarkan kesedihannya sendiri? Anak itu merasa sendiri, ia benar-benar merasa sendiri, didekap sunyi dan terasing dari dunia.
Dinding Angin (13)
“Pendekar Tanpa Nama itu hebat sekali, dia belum kalah,” pembeli berambut keriting gondrong berseru kepada dua temannya. “Dia akan bertarung dengan Si Tangan Buntung, besok sore.”
Dinding Angin (12)
Wilayah ulu berupa pemukiman penduduk asing. Mereka mendiami rumah-rumah rakit, tepat berjajar di seberang, menghadap ke arah pasar dan benteng istana. Di bantaran sungai, satu jelujur jalan mengarah lurus sampai ke batas baratnya berkelok di muara Sungai Ogan dan sebelah timurnya mencapai Delta Upang.
Dinding Angin (11)
“Mohon ampun, Yang Suci.” Pundaknya diangkat dua belah tangan kukuh. Mereka tegak berhadapan. Bunda Anandita tertunduk. Merasa tak kuasa menentang mata suaminya. Selagi risau terus meraja dan melela perasaan mereka.
Dinding Angin (10)
Awan biru sudah pupus. Suatu senja, langit bersemi kelabu. Seekor elang gunung berbulu kelabu terbang dari puncak Bukit Serelo. Telinga dan sorot mata tajam menyimak dan melihat isak lirih dan air mata, yang terdengar sendu dan terlihat larat mengalir.

Posted by:
Posted by: